Tuesday, August 9, 2016

Full Day School Antara Fakta dan Realita.


Koleksi Foto Mama Ephy
Sosial media sepekan belakangan ini gonjang ganjing dengan wacana full day school yang digelindingkan oleh menteri pendidikan yang baru, Muhadjir Effendy. Beragam tanggapan dari pro dan kontra saling bersilang meramaikan dunia maya. 

Secara etimologi, full day school berarti kegiatan belajar sehari penuh. Sedangkan secara terminologi bisa diartikan sebagai sistem pembelajaran sehari penuh dengan menambah muatan materi pelajaran, pendalaman, pengembangan diri dan kreatifitas. 

Full day school mulai muncul di Amerika sekitar tahun 1980an yang diterapkan pada jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak. Dengan alasan semakin banyak ibu pekerja yang tidak memiliki pengasuh untuk membantunya mengurus anak selama ia bekerja.  Di Indonesia sendiri, sistem full day school mulai booming pada tahun 1990an dengan maraknya berdiri sekolah-sekolah berlabel islam terpadu atau sekolah unggulan. 

Faktanya, dengan adanya sistem full day school, sekolah dituntut untuk memberikan fasilitas yang memadai bagi murid-murid dan juga para gurunya. Bagaimanapun mereka akan beraktivitas sehari penuh di sekolah. Fasilitas mulai snack, makan siang, jam tidur, tempat tidur, besaran gaji guru, dan fasilitas lain yang menunjang harus bisa disediakan oleh sekolah. Pemenuhan semua fasilitas tersebut bukanlah sesuatu yang murah. Hal ini akan berdampak pada besarnya biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh orangtua murid. 

Jika alasan dicanangkannya full day school semata agar jam sekolah anak matching dengan jam kerja orangtua, maka program ini sepertinya hanya cocok diterapkan di perkotaan dan bagi sekolah yang mayoritas kedua orangtuanya adalah pekerja. Sementara di daerah pinggiran, daerah terluar, termiskin, dan tertinggal, yang mayoritas orangtua, utamanya para ibu adalah ibu rumah tangga, sekolah dengan sistem seperti ini sulit diterapkan. Terlebih bagi para orangtua yang juga membutuhkan anaknya untuk membantu pekerjaan atau bahkan bekerja menambah penghasilan keluarga.

Alasan lain diluncurkannya wacana tersebut untuk tingkat pendidikan dasar SD dan SMP juga antara lain untuk mencegah anak melakukan aktivitas bebas, lepas kontrol dan cenderung berkonotasi negatif. Adakah fakta dan realita berdasarkan angka-angka survey dan kasuistik yang menunjang alasan tersebut?

Plus minus full day school sama halnya dengan sistem pendidikan lainnya, pastinya akan terus menuai pro dan kontra. Jika full day school hanya membebani anak dengan tambahan pelajaran secara teoritis, lebih baik anggaran pendidikan digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Perbanyak pendidikan life skill, critical thinking, dan pendidikan terukur yang bisa melejitkan seluruh potensi anak. 

Full day school untuk jenjang pendidikan dasar tidak perlu harus seminggu penuh. Juga tidak dengan materi pendidikan yang membosankan dan mendorong anak menjadi lebih stress. Saya sendiri mengalami "full day school" saat menjadi siswi SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Pendidikan sehari penuh yang full fun. Saya dan kawan-kawan saat itu tidak dibebani materi pelajaran yang bikin stress. Kami mendalami life skill yang kelak sangat berguna saat umur bertambah beberapa puluh tahun. 

Indonesia juga memiliki sejarah full day school yang panjang lewat pesantren-pesantren dan sekolah-sekolah berasrama, Tidak cuma sehari penuh murid-murid belajar di sekolah itu. Mereka bahkan 24 jam berinteraksi penuh dengan para guru dan teman-temannya. 

Sistem adalah sistem, seperti mata pisau, apakah akan menjadi manfaat atau mudharat, tergantung siapa yang menggunakan pisau tersebut. Bagaimanapun saya memimpikan pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Siapapun menteri pendidikannya. 

*Meruya, 9 Agustus 2016
*Kudedikasikan tulisan ini untuk alumni SPG Negeri 6 angkatan 1988


Monday, June 13, 2016

Masjid Madrasah Kepemimpinan


Foto diambil dari Google
Mengingat masjid, berarti memutar ingatan pada sosok seorang guru ngaji yang kupanggil Babe. Lelaki bersahaja yang selalu “galak” dalam mengajari anak-anak mengeja huruf hijaiyyah. Babe tidak cuma mengajar ngaji atau menuntut kami agar sesegera mungkin khataman. Lebih dari itu, Babe mendidik kami untuk menjadi pemimpin.

Di benak seorang anak, apa yang beliau ajarkan bisa jadi sekadar numpang lewat. Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri, otak seorang anak merekam segala hal dan menyimpannya di alam bawah sadar. Kalimat yang sampai hari ini masih melekat dalam ingatanku adalah, “Kamu boleh jadi apa saja. Boleh melakukan apa saja. Tapi ingat, kamu adalah pemimpin. Setidaknya untuk dirimu sendiri. Seorang pemimpin akan diminta tanggung jawabnya kelak sama Allah.”

Harus kuakui, sejauh apapun kaki melangkah dan tangan berkarya, nasehat Babe menjadi rambu bagiku. Mungkin sesekali tergelincir. Berhenti sejenak. Lalu ngegas lagi di arena yang benar.

Hari ini, di saat banyak orang bergaduh soal memilih pimpinan. Soal kriteria seorang pemimpin ideal. Melihat fenomena seperti ini, aku berpikir, seharusnya lebih banyak lagi guru-guru mengaji yang memiliki visi sebagai seorang leader, seperti Babe. Guru mengaji yang tidak hanya mengajarkan ini halal, dan itu haram. Guru ngaji bermental pemimpin. Menjadikan masjid sebagai sarana leaders create leaders. 

*Word Count 199 kata


Lombamenulis

Wednesday, August 12, 2015

Menautkan Jejak Eksistensi

Pernah dengar yang namanya SPG? Sales Promotion Girl? Oooh noo! Terus apa? Sejenis makanan baru yang enak bingiits? Yeeey bukan juga! SPG adalah Sekolah Pendidikan Guru. Emang ada? Ada dooong. Sekolah ini ngetop pada jamannya, dan rata-rata guru senior yang masih mengajar sekarang adalah tunas bangsa yang lahir dari rahim SPG. 

Saya adalah salah satu lulusan SPG Negeri 6 Jakarta yang pernah eksis. Kalaupun sekarang sekolah ini dilikuidasi, bukan semata karena peminatnya berkurang. Melainkan pemerintah, khususnya menteri pendidikan pada tahun 1991, memutuskan guru harus lulusan setingkat diploma. Maka dibentuklah yang namanya PGSD alias Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang menjadi bagian dari IKIP pada saat itu. Jadi jenjang pendidikan untuk menjadi guru lebih lama. Harus tamat SMA dulu. lalu masuk PGSD, baru bisa jadi guru. Sementara di jaman saya sekolah, lulus SMP bisa langsung masuk SPG dan siap jadi guru SD. 

Apakah itu berarti lulusan SPG tidak berkualitas? Hohoho siapa bilaang! Para siswa lulusan SPG kenyang ditempa dengan pendidikan yang ketat, target ketat, praktek mengajar ketat dan berkesinambungan sejak kelas 1. Tidak ada yang namanya sekolah bisa berleha-leha seperti anak sekolah jaman sekarang. Sedikit kesempatan buat kami jadi berandal sekolah. Apalagi yang namanya tawuran, siswa-siswi SPG track recordnya bersih 

Jadi masa-masa saya di SPG stress doong dengan segala peraturan yang ketat? Iiih nggak laah yaauw. Kami menikmati masa remaja sebagai murid, sekaligus menikmati masa-masa "dimatangkan" untuk menjadi guru. Terlalu banyak kenangan indah yang kalau dituliskan bisa jadi novel berseri looh. 

SPG pernah ada. Kami pernah menikmati masa-masa itu. Kenangan-kenangan itulah yang menyatukan keinginan kami untuk temu kangen. Jadilah tahun ini kami melakukan halal bihalal khusus alumni SPG Negeri 6 angkatan 88, di rumah Nining, Kodam Bintaro. Waah sudah pada tua doong! Yaiyalah! Tapi kami menolak tua. Buat kami tua itu kalau sudah tidak lagi bisa berdaya dan berkarya. 

Saya dan teman-teman masih asyik berkarya dengan segala daya dan pastinya karena itu kami bisa bergaya, ya kaan? :) Tidak semua lulusan SPG pada akhirnya menekuni profesi sebagai guru di sekolah. Tapi mereka tetaplah guru di universitas kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Saya sendiri sudah tidak lagi mengajar secara formal sejak tahun 2005. Beberapa teman mengambil jalur di dunia industri, perkantoran, bisnis, dan banyak lagi bidang kehidupan yang diisi oleh para alumni SPG ini. 

Namanya juga alumni ya, jadi kalau lagi halal bihalal begini isinya pasti saling membully tentang kenakalan atau kejahilan kami semasa sekolah. Tak ketinggal cerita-cerita kenangan yang bisa bikin ketawa hahahaha meskipun pada saat kejadian dulu pastinya ada yang menangis. 

Para anggota tim volly sekolah ; Nining, Lilis, dan Ninuk asyik bernostalgia tentang dunia vollynya. Nina Si Ibu Lurah masih seheboh dulu dengan ceritanya tentang pembalut yang terbalik, meski tampangnya innocent, sampai-sampai Ibu Rahmiati tidak percaya kalau ia yang melempar kulit rambutan dan nyangkut di konde si ibu hihihi. Tuji? Aaah ya gadis berkepang 2 di sekolah ini masih cempreeeng, hebooh dan tetap mengucap i dengan e, alih-alih seribu jadi serebu, Cipinang jadi Cepinang, aiih lucunyaaa.

Gusti si mamah Dedeh, masih usil dengan kalimat-kalimatnya yang kalau tidak cerdas menanggapi, membuat kita terjebak. "Ndi, rumahnya masuk mobil nggak?"
Naah coba apa makna kalimatnya tersebut hayooo :)
Sementara Paryati, Fairny dan Halimah masih sekalem dulu. Eeeh tapi kadang-kadang Fairny bawel juga sih xixixi. 

Lalu Gobind Jay alias Jahidi si kurus krempeng yang menjelma jadi wakil kepala sekolah yang berkarisma, kalau ngomong masih pakai mikir dulu. Duuh kebanyakan mikir, Pak. Ketinggalan pesawat loooh, eeh nggak ding. Bapak satu ini baru pulang umroh yang tentunya naik pesawat. 

Yang lebih tidak terduga, H. Andy yang di masa sekolah sepertinya melambai xixixi ... sorry ya Jiii. Ternyata cukup tegas menjadi ketua ikatan alumni SPG Negeri 6 angkatan 88. Andy yang sukses jadi pebisnis, begitu peduli akan keberlangsungan silaturahmi para alumni ini. Bisa dibilang, Andy lah motor penggerak reuni kami.


Enak dong ya bisa halbil sambil reunian. Tentu enak. Apalagi didukung pasangan hidup yang setia dan mau mengantar serta menunggui kami berhaha hihi ria. Para bapak-bapak itu asyik ngobrol soal batu akik, sambil ngopi dan ngrumpiin para istrinya pastinya. 


Sayangnya reuni ini belum lengkap. Doli, Upik, Mung Ha, Nurjanah, Uthe, Nitis, Subur, Dwi Restu, Eem, dan masih banyak lagi yang tidak bisa hadir dengan alasan masing-masing. Semoga mereka baik-baik saja dan pastinya tetap berkarya di bidangnya masing-masing.

SPG boleh tiada secara wujud dan eksistensi. Tapi obor tetap menyala di dada kami para alumni yang mengemban amanah untuk anak negeri.  Silaturahmi ini adalah upaya agar tidak kepaten obor sesama alumni. Alangkah bahagianya jika sampai anak cucu kita saling mengenal karena para orangtua mereka terjalin dalam persahabatan yang solid. 

Semoga reuni pertiga bulanan di rumah Nina Dahlan, di bulan Nopember 2015 dihadiri oleh lebih banyak alumni. Ayoo hadir doong di rumah Nina. Supaya kalian terus jadi inspirasi tulisan saya hehehe. O ya Titie akan selalu ada di setiap reuni sebagai pengamat untuk menjadikan kalian sebagai bahan tulisanku hohoho .... 

*Kudedikasikan tulisan ini buat teman-teman Alumni SPG Negeri 6 angkatan 1988
*Meruya, 12 Agustus 2015

Jiiiangkriiik! Ini Bukan Review

Kamu pernah merasa gundah? Resah? marah? Kecewa? Atau aneka perasaan lain yang mewakili kata bad mood. Kalau iya, saranku ; segera pergi ke toko buku dan temukan 2 buku yang fotonya mejeng di postingan ini.

Kedua buku itu benar-benar jiiiangkriiik! Bisa menguras airmataku, menohok, dan melemparkanku pada level kesadaran yang kembali menggerakan jemariku di atas laptop. Kok bisa ya buku-buku membuatku serasa ditampol dengan kekuatan gajah yang melindas dan meraung-raung terus isinya di kepala? 

Kuberitahu satu hal, Saya tipe orang yang baru bisa nyadar lewat membaca. Sebelum sebuah lampu pijar berkedip-kedip di kepala dan menimbulkan bunyi beep-beep-beep beep maka saya akan terus mencari bahan bacaan yang mampu menyurutkan emosi  ke level sadar sebagai manusia yang lemah dan hanya seorang hamba Allah yang tak bisa apa-apa tanpa seijinNya.

Nggak Usah Kebanyakan Teori Deh...! Sukses membuat mata saya berpijar dan menyadari bahwa selama ini saya kebanyakan mikir ini dan itu hingga kadang tulisan-tulisan saya tidak selesai. Saya sering tidak berani ambil risiko dan selalu berdebat dengan diri sendiri setiap kali mau melakukan apapun. Bab demi bab dalam buku ini membuat saya berani melepaskan teori-teori yang selama ini mengungkung hati dan pikiran. 

Yakin Selamanya Mau Di Pojokan? Duuuh Monica Anggeeeeen! Dari mana sih kamu dapat banyak kalimat-kalimat ajaib dalam buku ini yang membuat saya menangis tersungkur di atas sajadah? Uuuh buku ini memang ajiiib! Lebih memotivasi daripada motivator manapun. Lebih mencerahkan daripada banyak nasehat yang belakangan ini saya terima dalam masa-masa saya menangisi kondisi yang tidak menyenangkan. 

Aaah pokoknya jiiiangkriiik! Ini bukan review. Cuma curhat seorang Titie saat membaca 2 buku ajaib ini. Kedua buku ini mengingatkan saya pada masa di mana kondisi yang nyaris serupa pernah terjadi.

Di tahun 1989, terjadi pergolakan hati antara pakai jilbab atau tidak. Kalau pakai jilbab, saya tidak bisa mejeng, hura-hura, jail, ngisengin orang, hiking, dan aneka kegiatan lain yang pastinya terbatas saat saya berjilbab. Keraguan saya dibanting telak oleh sebuah buku tentang 100 Tanya Jawab Tentang Jilbab yang diberikan oleh kakak tersayang, Mbak Heti Afiatushalihah. Maka bermetamorfosalah saya menjadi muslimah berjilbab setelah khatam membaca buku itu.

Lalu ketika satu-satunya anak saya meninggal di tahun 2008, sebuah buku yang saya lupa judulnya tapi ingat persis isinya, mengentak rasa keikhlasan  yang nyaris merosot di mata kaki. Bahwa bagaimanapun setiap yang hidup pasti akan mati, Buku itu menguatkan saya untuk menjalani hari-hari seorang diri.

Kini terulang lagi. Buku-buku karya Monica Anggen itu, membuat saya nangis termehek-mehek membuat sebuah pengakuan di atas sajadah bahwa selama ini saya belum memaksimalkan seluruh potensi yang Allah anugerahkan. Terlalu banyak berteori, sering tidak sabaran dan ingin segera memetik hasil, mati ide (padahal sumur ide ada di mana-mana), dan kebanyakan berpikir.

Selesai termehek-mehek, sebuah kata melintas, "Jiiiangkriiik!"

Iiih penulis kok bahasanya pake jiiangkrik. Yaaah kan saya pernah menjejakkan kaki di Surabaya. Kata jangkrik bukan makian. Sering juga dipakai untuk menunjukan kekaguman dan pujian atas sesuatu yang menarik hati. Masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya, kesannya memang kasar ya dalam berbahasa. Tapi itulah bahasa kejujuran hati.

Jadi buat kamu yang sedang merasa terpuruk dan dikurung bad mood, kalau sampai tidak beli kedua buku ini, sungguh kalian akan menyesal. Karya Monica Anggen yang seperti "anak kembar" ini memang layak masuk kategori best seller. Karena memang jiiiangkriiik! hehehe. 

Last but not the least, sungguh benar Allah dengan segala firmannya. "Iqra!" Hanya dengan membaca; pemahaman, kesadaran, pengetahuan, logika, dan rasa dapat dipuaskan. Maka bacalah apapun yang bermanfaat bagi kehidupanmu.

*Meruya, 12 Agustus 2015




Monday, May 11, 2015

Awas Ada Setaaan!


Di masa kanak-kanak, para orangtua kerap melarang anak-anaknya  keluar rumah pada waktu maghrib. Dengan kalimat andalan, “Jangan keluar kalau maghrib nanti dibawa wewe gombel." Atau, “Awas looh! Nanti kamu diculik genderuwo kalau keluyuran waktu maghrib. Awas ada setan tuuuh!"

Apa sebenarnya yang terjadi di waktu maghrib? Sampai para orangtua mengultimatum seperti itu?. Apakah benar hantu, wewe gombel, genderuwo dan segala jenis setan-setanan eksis dan benar adanya? Sehingga jadi senjata andalan untuk menakuti-nakuti anak kecil supaya patuh tanpa reserve atas perintah ayah ibu nya?.

Berdasarkan kajian dari sudut pandang agama, ternyata Rosululloh Muhammad SAW melarang keluar pada waktu maghrib berdasarkan hadits berikut :
“Dari Jabir RA, Rosululloh SAW bersabda, "Ketika malam turun, dekatkanlah anak-anak kalian kepadamu.  Karena waktu itu syaithan berkeliaran.  Sejam kemudian Kalian dapat melepaskan mereka. Dan tutuplah pintu-pintu rumahmu dan sebutlah nama Allah. Padamkanlah lampu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah minumanmu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah juga bejanamu dan sebutlah nama Allah, sekalipun hanya dengan meletakkan sesuatu di atasnya." (HR.Bukhari).

Dari hadits tersebut dijelaskan bahwa, ketika malam turun, antara waktu maghrib dan isya ( perhatikan kata sejam kemudian) Kita dianjurkan untuk tidak keluar rumah untuk kebaikan diri sendiri. Selain itu hadits tersebut juga mengajarkan untuk menutup pintu, minuman dan setiap wadah yang ada dengan mengucap basmalah. Sebagai upaya menghindarkan diri dan keluarga dari gangguan setan. Sementara memadamkan lampu dengan menyebut nama Allah adalah sebuah pelajaran untuk mendapatkan tidur yang berkualitas selepas waktu isya. Karena dengan memadamkan lampu tubuh akan mudah relaks dan tidur lebih cepat sehingga tubuh akan mengeluarkan zat melatonin yang mampu melakukan self healing dari berbagai penyakit, dan membangun sistem imun alami. Anjuran untuk tidur selepas isya adalah agar kita bisa bangun di pertiga malam terakhir untuk sholat tahajud.

Sementara berdasarkan kajian ilmu medis timur yang dikenal dengan akupunktur, ditemukan bahwa waktu maghrib identik dengan spektrum gelombang warna merah. Waktu di mana setan dan iblis memiliki tenaga maksimal disebabkan warna merah adalah gelombang frekuensi mereka. 

Larangan keluar rumah di waktu maghrib juga berguna bagi kesehatan frekuensi otak, otot dan tulang. Karena pada waktu maghrib, tenaga kerja jantung yang mengandung unsur api sebagai salah satu elemen lima unsur alam dalam teori yin dan yang, sedang berada dipuncak. Jantung berhubungan dengan darah (sie). Dan pembuluh darah mempengaruhi kerja otot dan tulang. Ketidak maksimalan kerja jantung akan mengakibatkan seseorang mudah terkena rheumatoid arthritis ( rematik) dan osteoarthrosis (nyeri tulang). Itulah mengapa sebaiknya menghindari mandi antara waktu maghrib dan isya. Bukan air yang menyebabkan seseorang terkena rematik jika mandi di waktu tersebut, melainkan kondisi yin yang tubuh yang tidak seimbang. Berdasarkan kajian tersebut, selayaknya kita menjadikan waktu maghrib untuk menjalin komunikasi transenden dengan Sang Pencipta dengan sholat dan dzikir, untuk menyerap tenaga alam dan menguatkan Qi=Ci Jantung, agar mampu mengalirkan darah dan oksigen ke otak dan memberi kekuatan pada otot dan tulang. 

Kembali pada masalah tidak boleh keluar di waktu mahgrib, selayaknya tidak hanya berlaku untuk anak-anak namun juga bagi kita yang sudah dewasa. Bagaimanapun menghentikan sejenak aktivitas di luar rumah( bagi mereka yang bekerja di luar) dan mampir ke masjid untuk sholat maghrib adalah upaya menghindarkan diri, tidak cuma dari gangguan setan secara psikis, tapi juga secara pisik mencegah diri dari kecelakaan. Karena gelombang warna merah akan sangat berbahaya jika bertumbukan dengan cahaya yang menyilaukan mata, baik dari sinar lampu jalanan, atau sorot lampu kendaraan yang menyebabkan banyak terjadi kecelakaan di waktu maghrib.

Sementara bagi bayi, balita dan anak-anak kita, larangan keluar rumah memberi pelajaran dan membiasakan anak menjalani pola hidup sehat. Alih-alih membiarkan anak keluar rumah atau justru orangtua mengajak anak jalan-jalan waktu maghrib, lebih baik jika anak diajak sholat berjamaah, belajar bersama, dan mendongeng. Terlebih bagi para bayi dan balita yang masih peka dan dalam masa keemasan memori dan mengimitasi banyak hal. Kebiasaan baik yang kita ajarkan, akan menjadi sebuah proses pembelajaran yang tersimpan sebagai file di alam bawah sadar. Kelak akan membantu mereka untuk mempelajari sesuatu yang lebih rumit seiring pertambahan usianya. Otak mereka sedang berkembang dengan pesat di usia keemasannya, jangan cederai sinap-sinap (jaringan penghubung antar otak) mereka dengan membawa ke dalam pusaran spketrum warna di mana setan dengan segala kekuatannya menyusupkan bisikan-bisikan halus untuk merusak kemampuan otak ananda tercinta. ,

Pembiasaan polah asuh dan pola hidup yang baik dari orangtua, akan menjadi kebiasaan yang tertanam di dalam diri seorang anak. Dengan demikian, tidak perlu lagi menakuti-nakuti anak dengan segala cerita mistis hantu-hantuan, yang justru akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang penakut dan lemah. Bagaimanapun, upaya baik untuk menjaga dan mendidik keluarga tercinta, adalah keinginan setiap orangtua. Mari jadikan waktu lebih berharga dalam setiap detik kehidupan yang diberikan selama nyawa masih melekat di jiwa.


*Duri Kepa, 12 Mei 2015
*Sebuah recycle tulisanku yang pernah dipublish di www.jinggapublishinghouse.com
*Diolah dari berbagai referensi. 



A Journey Of Wedding

This love is the second chance of our life.
~Titie's Quote~

Sejak kemarin, ada degupan di kisi-kisi hati. Serupa rasa saat menanti kedatangan seorang kekasih. Padahal yang kunanti hanya sebuah tanggal. 11 Mei 2015. Sebuah tanggal yang penuh arti buatku, tentu juga buat suamiku. Tanggal yang menandakan setahun perjalanan cinta kami dalam ikatan suci bernama pernikahan. 

Bukan sebuah perjalanan mulus yang melulu bertabur mawar di setiap lintasannya. Kerap ada kerikil-kerikil kecil yang perlahan kami singkirkan ke tepian secara bahu membahu. Kerikil-kerikil yang kami sulap menjadi sebuah jalan setapak yang bisa kami lalui dengan bertelanjang kaki. Anggaplah kami sedang melakukan pijatan pada titik-titik refleksi di kaki yang akan menyehatkan dan menyegarkan body, mind, and soul.

Setelah melewati perjalanan berlumur kecewa, duka, dan airmata, Allah mempertemukan kami dengan cara yang unik. Buat kami, pernikahan ini adalah kesempatan kedua dalam kehidupan yang akan dijaga sepenuh jiwa agar iramanya tetap selaras dengan alunan cinta. 

Setahun memang baru permulaan dalam perjalanan sebuah pernikahan. Masih akan ada riak dan gelombang yang akan menghadang di depan. Orang bilang, setahun sedang manis-manisnya. Sedang rindu serindu-rindunya pada belahan jiwa. Namun berkaca dari pengalaman, sepertinya tak hendak kami biarkan jelaga mewarnai kesempatan kedua ini. 

Cukup banyak cerita dalam setahun ini. Suamiku yang pendiam, tak banyak beraktivitas, menjadi lebih banyak bicara karena kulibatkan dalam aktivitas-aktivitasku. Takkan ada cerita sukses dalam setiap aktivitasku tanpa dukungannya. Ia yang tak banyak mengungkapkan kata cinta, menjadi lebih ekspresif karena "kupaksa" untuk mengungkapkan cintanya tiap kali padaku hahaha. Karena perempuan selalu butuh bahasa verbal dari suaminya untuk merasa dicintai, bukan? Pendek kata, suamiku jadi lebih gaul dooong hahaha ....

Aku pun menjadi terlibat dalam jalinan pertemanan bersama sahabat-sahabatnya. Menyenangkan. Kami jadi kompak dalam banyak hal. Tak cuma sesuatu yang mengurai tawa, bahkan pada moment-moment yang memicu kesedihan dan kepanikannya. Seperti saat mama sakit. Kutahu suamiku tak cukup berpengalaman dalam urusan rumah sakit. Tugaskulah sebagai istri untuk menenangkan hatinya dan membantunya berbakti pada orangtua dengan mengambil alih segala urusan rumah sakit. Lalu segala keletihanku wira wiri ke rumah sakit, sirna dalam sekejap, setiap kali ia merengkuhku, membawa ke pelukannya. 

Darinya aku belajar mengendalikan waktu untuk tak beraktivitas berlebihan di luar rumah. Sebisa mungkin aku sudah di rumah sebelum ia pulang kerja. Jikapun terpaksa harus beraktivitas melebih batas toleransi waktu, aku selalu memohon ijin dan keridhoannya. Bagaimanapun saat ini aku adalah seorang perempuan bersuami yang harus bisa menyelaraskan waktu kerja, aktivitas sosial, hobby,  dan urusan rumah tangga. 

Bersamanya aku menjadi lebih berani untuk bermimpi dan menyusun langkah satu persatu untuk meraih setiap mimpiku. Mimpi-mimpi yang kususun untuk membahagiakan suami, mama, ayah, dan adik-adikku. Cintanya menjadi energi booster buatku meraih bintang di ketinggian. Untungnya suamiku bukan type lelaki yang mengekang istrinya di rumah. Ia sangat tahu kapasitas istrinya yang tidak bisa duduk manis di rumah. Ia sangat paham bahwa setiap ide di kepalaku butuh pelepasan. Ia pun tahu bahwa setiap peluang yang menghampiriku adalah dukungan semesta untuk meraih mimpi-mimpiku. Maka keridhoannya menjadi penyejuk hati dan memperingan langkahku. 

Lalu, fabiayyi a'ala ii robbikuma tukadzibaaan .... nikmat mana yang bisa kami dustakan? Mungkin kami masih belum terlalu pandai bersyukur. Tapi setiap detik yang berlalu adalah untaian dzikir cinta pada Sang Mahacinta. Meski dengan cara sederhana, cinta mengajarkan kami untuk senantiasa melembutkan hati, terhadap setiap kejadian yang menghampiri. Untuk selalu menganyam kesabaran di atas masalah-masalah yang kadang terlihat berat. Namun dengan bergenggaman tangan membuat tak ada yang tak mungkin untuk dilalui. Aku dan suamiku bukanlah satu, melainkan dua jiwa berbeda yang terus belajar untuk menyejajarkan langkah, menyatukan irama cinta, dalam perjalanan panjang sepanjang sisa usia. Jika hari ini Allah belum memberi amanah seorang anak dalam pernikahan kami, maka itu adalah sebuah kesempatan yang Allah beri agar bisa berbuat lebih banyak untuk orang-orang tercinta dan untuk banyak orang di sekeliling kami. Semoga Allah membantu kami untuk selalu bisa meraih pelajaran dan hikmah dari setiap peristiwa. 



*Duri Kepa, 11 Mei 2015. 
Terima kasih untuk suamiku yang telah menjadikanku belahan jiwanya. Terus belajar bersama yuuuk, Maaas ....



Friday, April 10, 2015

Sukses Berberkah Karena Sakit Hati

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman pernah bertanya padaku, "Apa obatnya patah hati, Mbak. Kekasihku selingkuh?" 

Jawabku saat itu adalah, "Jatuh cinta lagi. Lalu patah hati lagi. Kemudian jatuh cinta lagi berkali-kali, Kemudian rasakan bedanya patah hati kedua, ketiga, dan kesekian kalinya." 

Setelahnya, seorang teman yang lain berkata, "Aku sakit hati. Usahaku hancur. Ditikam teman dekatku sendiri. Piye carane mbalas sakit hatiku?"

Kujawab pertanyaannya, "Balaslah dengan menjadi lebih sukses dari kemaren."

Di kesempatan lain, seorang teman yang baru saja terkena musibah kematian suami dan anaknya curhat, "Kenapa Tuhan mengambil semua orang yang kucintai? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?"

Kupeluk dan kubisiki dia, "Karena Tuhan memberimu kesempatan untuk mencintai banyak orang yang lain. Karena Tuhan tahu, kamu punya sejuta cinta untuk dibagikan sebagai obat luka hatimu."

Sakit hati, patah hati, kehilangan, bahkan merasa hidup sebagai beban, adalah bentuk-bentuk emosi negatif yang bisa memancing stres berkepanjangan. Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa semua emosi negatif itu bisa diolah menjadi stres yang positif? Stres negatif (distress) bisa diubah menjadi stres positif (Eustress). Bagaimana? Mungkinkah? Tentu sangat mungkiiin ....

Saat seseorang stress biasanya ia akan mengalami ketertekanan yang membuat emosinya meluap-luap dan mempengaruhi seluruh organ tubuh dan kinerja tubuhnya. Saat mengalami hal seperti ini, nikmatilah. Beri ruang pada hati dan jiwa untuk menikmati rasa sakitnya. Lalu menangislah. Karena menangis dapat menurunkan tekanan darah dan unsur mangan dalam tubuh. Sehingga suasana hati dan mood pun akan menjadi lebih baik. Dengan demikian akan melepaskan stres yang menekan jiwa. 

Pada saat kondisi jiwa dan tubuh mulai tenang, segeralah berwudhu lalu istighfar. Kemudian menulislah. Karena menulis dapat menjadi sarana mengkatarsiskan emosi. Tulis apapun yang melintas dalam pikiran Anda saat itu. Endapkan tulisan itu. Lalu baca kembali di suasana hati yang lain. Rasakan perbedaan emosi saat membaca tulisan tersebut. Bisa jadi kita tertawa saat membaca tulisan tersebut di lain kesempatan.

Setelah menulis, keluarlah. Pergilah menemui teman yang bisa membawa mood kembali bagus. Masuki komunitas yang bermanfaat. Bisa komunitas menulis, seni, merajut, melukis, pecinta batu akik, atau apapun. Serap energi positif yang ada dalam kebersamaan dengan anggota kemunitas tersebut. 

Sakit hati bukanlah harga mati untuk bunuh diri. Patah hati, luka jiwa, dan aneka kata yang mewakili kegagalan, kehilangan, bete, dan sebagainya, bisa menjadi peluru yang melesat menuju kesuksesan. Sungguh banyak cerita kesuksesan yang berangkat dari kegagalan, patah hati, sakit hati, dan lain-lain. 

Sebut saja Bung Karno, yang mampu menjadikan Indonesia merdeka dan berdaulat karena sakit hati atas segala penjajahan. Meski harus mendekam di balik penjara, diasingkan, dan berkali-kali hendak dibunuh. Tapi rasa sakit hati sebagai anak jajahan melejitkan dirinya menjadi Sang Proklamator. 
Lalu Thomas Alhpa Edison yang mampu menemukan lampu pijar sebagai cikal bakal kelistrikan saat ini, justru setelah ia berkali-kali mengalami kegagalan dan ejekan sebagai anak yang tak cerdas.
Masih ada Steve Jobs, pendiri Apple, perusahaan IT yang menghasilkan iphone. Seorang pengidap diklesia yang kuliahnya cuma sampai semester satu. Stres dengan sistem perkuliahan yang menurutnya tidak kondusif, memacu dirinya menemukan produk teknologi hingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Bahkan Willian Shakespeare mampu menulis kisah Rome dan Juliet yang fenomenal, karena cintanya yang tak sampai pada Viola de Lessep. Yang tak kalah penting, uswah hasanah, rosul mulia, Muhammad Saw yang gigih mensyiarkan Islam dengan mengatasi segala rasa sakit diejek, dimaki, dilempari kotoran, bahkan intaian pembunuhan setiap saat. Andai segala rasa sakit hati yang beliau rasakan menjadikannya putus asa, tentu Islam tak kita kenal saat ini. 

Kesuksesan sering lahir dari rahim kesedihan, patah hati, duka, dan aneka emosi negatif yang diolah menjadi peluru. Mereka tidak serta merta bisa mengatasi duka sekejap mata. Tak semudah membalik telapak tangan. Perlu upaya untuk mengubah luka menjadi karya. Perlu airmata untuk mennyuburkan setiap bulir perjuangan yang ditanam dalam proses menuju sukses. Juga perlu Kesungguhan dalam mengulurkan tangan ke dalam genggaman tangan Tuhan, agar dibimbing menuju keberhasilan.

Duka tidak melulu tentang airmata. Tapi sebuah proses dan upaya mengungkap sebentuk cinta dari Sang Mahacinta. Sakit hati tidak semata sebuah goresan yang memedih jiwa. Melainkan sebuah kesempatan yang Tuhan berikan untuk menjadikan diri kita lebih berarti dalam menorehkan jejak karya atas nama cinta. 

Maka bahagialah mereka yang pernah sakit hati, patah hati, memilin duka, dan memeras airmata. karena sejatinya mereka sedang diberi "hadiah" untuk melejitkan potensi diri menuju sukses. Kesuksesan yang berkah karena metamorfosis sakit hati.

Jika saat ini Anda sedang berduka, patah hati, sakit hati, bete, sedh, SELAMAT! Anda sedang memasuki fase menemukan tajamnya peluru yang akan menjadikan diri Anda lebih berarti. Ayooo segera bangkit. Ubah distress-mu menjadi eustress. Anda pasti bisa.


*Catatan seorang penghayat duka dan luka jiwa. Meruya, 10 April 2015

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting